Tampilkan postingan dengan label penyakit stroke. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit stroke. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Maret 2012

Seorang Seniman Cepat Pulih dari Penyakit Stroke



Penelitian menemukan bahwa penderita stroke yang menikmati musik, lukisan dan teater lebih cepat pulih dibandingkan pasien yang tidak menikmati seni.

Peneliti dari University Tor Vergata School of Nursing di Roma memberi pertanyaan kepada 192 orang pasien penyakit stroke mengenai ketertarikan para pasien terhadap seni. Sebanyak 105 orang mengaku tertarik pada musik, lukisan dan teater. Sisanya sebanyak 87 mengaku tidak tertarik pada seni apapun. Para peneliti kemudian membandingkan kualitas hidup kedua kelompok pasien.

Secara keseluruhan, pecinta seni terlihat lebih banyak mengalami peningkatan kondisi kesehatan, baik fisik maupun mental. Pecinta seni punya lebih banyak energi, kesehatannya meningkat secara umum dan juga lebih lincah. Pecinta seni juga terlihat lebih bahagia, tidak cemas dan punya daya ingat serta kemampuan komunikasi yang lebih baik.

"Orang yang selamat dari penyakit stroke yang menganggap seni sebagai bagian tak terpisahkan dari hidupnya lebih menghargai musik, lukisan dan teater. Mereka ini memperlihatkan pemulihan yang lebih baik daripada orang yang tidak tertarik dengan seni," kata peneliti, Dr Ercole Vellone, asisten profesor ilmu keperawatan di University Tor Vergata.

Penelitian ini menekankan pentingnya penghargaan terhadap seni seumur hidup sebab seni dapat membantu otak pulih dari cedera. Memperkenalkan seni kepada pasien dalam perawatan setelah penyakit stroke juga bisa membantu meningkatkan suasana hati pasien. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mendengarkan lagu kesukaan akan merangsang pengeluaran hormon dopamin di otak, sehingga memicu perasaan senang.

"Dopamin meningkatkan kualitas hidup setiap kali dikeluarkan di dalam otak. Namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah seni lainnya juga merangsang pengeluaran dopamin," kata Vellone.

Temuan yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan bertajukSpring Meeting on Cardiovascular di Kopenhagen, Denmark ini menyokong penelitian tahun 2008 dari Finlandia. Penelitian tersebut melaporkan bahwa pasien yang mendengarkan musik lebih mudah pulih dari penyakit stroke.

Penelitian tersebut mengamati 60 orang pasien stroke dan menemukan bahwa pasien yang mendengarkan musik beberapa jam sehari memiliki daya ingat yang lebih baik, lebih cepat pulih serta memiliki suasana hati yang lebih positif dibandingkan pasien yang tidak mendengarkan musik.

"Musik bertindak seperti super vitamin bagi otak. Hasil penelitian dari Finlandia menunjukkan bahwa perbaikan suasana hati penting bagi pemulihan pasien. Setelah stroke, kemungkinan depresi lebih tinggi karena terjadi perubahan kimia di otak sehingga menghambat keterampilan motorik. Kita perlu menemukan hal-hal yang dapat meningkatkan suasana hati agar pasien lebih termotivasi menjalani terapi," kata Dr Wendy Magee, profesor terapi musik di Boyer College of Music and Dance di Temple University di Philadelphia.


sumber:http://healthland.time.com/2012/03/16/how-an-appreciation-for-the-arts-may-boost-stroke-recovery/

Senin, 05 Maret 2012

Stroke Hemoragik




Stroke hemoragik terjadi bila pembuluh darah di dalam otak pecah. Otak sangat sensitif terhadap perdarahan, dan kerusakan dapat terjadi dengan sangat cepat. Pendarahan di dalam otak dapat mengganggu jaringan otak, sehinga menyebabkan pembengkakan, mengumpul menjadi sebuah massa yang disebut hematoma. Pendarahan juga meningkatkan tekanan pada otak dan menekan tulang tengkorak.

Stroke hemoragik dikelompokkan menurut lokasi pembuluh darah :
Intracerebral hemoragik, pendarahan terjadi di dalam otak.
Subarachnoid hemoragik, pendarahan di daerah antara otak dan jaringan tipis yang menutupi otak.
Stroke hemoragik paling sering disebabkan oleh tekanan darah tinggi, yang menekankan dinding arteri sampai pecah. Penyebab lain terjadinya stroke hemoragik adalah :

Aneurisma,yang membuat titik lemah dalam dinding arteri, yang akhirnya dapat pecah.
Hubungan abnormal antara arteri dan vena, seperti kelainan arteriovenosa.
Kanker, terutama kanker yang menyebar ke otak dari organ jauh seperti payudara, kulit, dan tiroid.
Cerebral amyloid angiopathy, yang membentuk protein amiloid dalam dinding arteri di otak, yang membuat kemungkinan terjadi stroke lebih besar.
Kondisi atau obat (seperti aspirin atau warfarin).
Overdosis narkoba, seperti kokain.
Gejala

Gejala stroke hemoragik bervariasi tergantung pada lokasi pendarahan dan jumlah jaringan otak yang terkena. Gejala biasanya muncul tiba-tiba, tanpa peringatan, dan sering selama aktivitas. Gejala mungkin sering muncul dan menghilang, atau perlahan-lahan menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu.

Gejala stroke hemoragik bisa meliputi:
Perubahan tingkat kesadaran (mengantuk, letih, apatis, koma).
Kesulitan berbicara atau memahami orang lain.
Kesulitan menelan.
Kesulitan menulis atau membaca.
Sakit kepala yang terjadi ketika berbaring, bangun dari tidur, membungkuk, batuk, atau kadang terjadi secara tiba-tiba.
Kehilangan koordinasi.
Kehilangan keseimbangan.
Perubahan gerakan, biasanya pada satu sisi tubuh, seperti kesulitan menggerakkan salah satu bagian tubuh, atau penurunan keterampilan motorik.
Mual atau muntah.
Kejang.
Sensasi perubahan, biasanya pada satu sisi tubuh, seperti penurunan sensasi, baal atau kesemutan.
Kelemahan pada salah satu bagian tubuh.
Perubahan visi (penurunan visi, atau kehilangan semua atau salah satu bagian dari visi).

Sabtu, 28 Mei 2011

Tentang Penyakit Stroke

Apakah stroke itu ?
Penyakit stroke adalah gangguan fungsi
otak akibat aliran darah ke otak mengalami
gangguan (berkurang). Akibatnya, nutrisi dan
oksigen yang dbutuhkan otak tidak
terpenuhi dengan baik. Penyebab stroke ada
2 macam, yaitu adanya sumbatan di
pembuluh darah (trombus), dan adanya
pembuluh darah yang pecah.
Umumnya stroke diderita oleh orang tua,
karena proses penuaan menyebabkan
pembuluh darah mengeras dan menyempit
(arteriosclerosis)dan adanya lemak yang
menyumbat pembuluh darah
(atherosclerosis). Tapi beberapa kasus
terakhir menunjukkan peningkatan kasus
stroke yang terjadi pada usia remaja dan usia
produktif (15 - 40 tahun). Pada golongan ini,
penyebab utama stroke adalah stress,
penyalahgunaan narkoba, alkohol, faktor
keturunan, dan gaya hidup yang tidak sehat.
Penyebab stroke
Pada kasus stroke usia remaja, faktor
genetika (keturunan) merupakan penyebab
utama terjadinya stroke. Sering ditemui kasus
stroke yang disebabkan oleh pembuluh
darah yang rapuh dan mudah pecah, atau
kelainan sistem darah seperti penyakit
hemofiliadan thalassemiayang
diturunkan oleh orang tua penderita.
Sedangkan jika ada anggota keluarga yang
menderita diabetes (penyakit kencing manis),
hipertensi (tekanan darah tinggi), dan
penyakit jantung, kemungkinan terkena
stroke menjadi lebih besar pada anggota
keluarga lainnya.
Penyebab serangan stroke lainnya adalah
makanan dengan kadar kolesterol jahat
(Low Density Lipoprotein)yang sangat
tinggi. Koleserol jahat ini banyak terdapat
padajunk food, atau makanan cepat saji.
Selain itu, penyebab terjadinya serangan
stroke lainnya adalah kebiasaan malas
berolah raga dan bergerak, banyak minum
alkohol, merokok, penggunaan narkotika
dan zat adiktif, waktu istirahat yang sangat
kurang, serta stress yang berkepanjangan.
Pecahnya pembuluh darah juga sering
diakibatkan karena penyakit tekanan darah
tinggi (hipertensi).
Gejala terjadinya serangan stroke
Gejala awal stroke umumnya pusing, kepala
serasa berputar (seperti penyakit vertigo),
kemudian disusul dengan gangguan berbicara
dan menggerakkan otot mulut. Gejala
lainnya adalah tergangguanya sensor perasa
(tidak bisa merasakan apapun , seperti dicubit
atau ditusuk jarum) dan tubuh terasa lumpuh
sebelah, serta tidak adanya gerakan refleks.
Sering juga terjadi buta mendadak atau
kaburnya pandangan (karena suplai darah dan
oksigen ke mata berkurang drastis),
terganggunya sistem rasa di mulut dan otot-
otot mulut (sehingga sering dijumpai wajah
penderita menjadi mencong), lumpuhnya
otot-otot tubuh yang lain, dan terganggunya
sistem memory dan emosi. Sering dijumpai
penderita tidak dapat menghentikan
tangisnya karena lumpuhnya kontrol otak
pada sistem emosinya. Hal itu membuat
penderita stroke berlaku seperti penderita
penyakit kejiwaan, padahal bukan. Hal-hal
seperti ini yang perlu dimengerti oleh
keluarga penderita.
Proses penyembuhan
Ada 2 proses penyembuhan utama yang
harus dijalani penderita. Pertama adalah
penyembuhan dengan obat-obatan di rumah
sakit. Kontrol yang ketat harus dilakukan
untuk menjaga agar kadar kolesterol jahat
dapat diturunkan dan tidak bertambah naik.
Selain itu, penderita juga dilarang makan
makanan yang dapat memicu terjadinya
serangan stroke sepertijunk fooddan
garam (dapat memicu hipertensi).
Proses penyembuhan kedua adalah
fisiotherapy, yaitu latihan otot-otot
untuk mengembalikan fungsi otot dan fungsi
komunikasi agar mendekati kondisi semula.
Fisiotherapi dilakukan bersama instruktur
fisiotherapi, dan pasien harus taat pada
latihan yang dilakukan. Jika fisiotherapi ini
tidak dijalani dengan sungguh-sungguh, maka
dapat terjadi kelumpuhan permanen pada
anggota tubuh yang pernah mengalami
kelumpuhan.
Kesembuhan pada penderita stroke sangat
bervariasi. Ada yang bisa sembuh sempurna
(100 %), ada pula yang cuma 50 % saja.
Kesembuhan ini tergantung dari parah atau
tidaknya serangan stroke, kondisi tubuh
penderita, ketaatan penderita dalam
menjalani proses penyembuhan, ketekunan
dan semangat penderita untuk sembuh, serta
dukungan dan pengertian dari seluruh anggota
keluarga penderita. Seringkali ditemui bahwa
penderita stroke dapat pulih kembali, tetapi
menderita depresi hebat karena keluarga
mereka tidak mau mengerti dan merasa
sangat terganggu dengan penyakit yang
dideritanya (seperti sikap tidak menerima
keadaan penderita, perlakuan kasar karena
harus membersihkan kotoran penderita,
menyerahkan penderita kepada suster yang
juga memperlakukan penderita dengan kasar,
dan sebagainya). Hal ini yang harus
dihindarkan jika ada anggota keluarga yang
menderita serangan stroke.